The Moral Behind of the Story


Kasih ibu kepada beta,

tak terhingga sepanjang masa.

Hanya memberi,

tak harap kembali.

Bagaikan surya menyinari DUNIA.

Mari kita untuk selalu mengheningkan cipta mengenang  jasa dan cinta kasih ibu. Entah sejak umur berapa kita mengenal nyanyian tersebut dan tak pernah lupa, bahkan hingga hari ini, sekali-sekali kita masih saja menyanyikan kembali lagu itu. Baitnya pendek, rangkaian kata-katanya simpel, namun kandungan maknanya teramat dalam, sehingga kadang kala air mata menetes setiap menyanyikannya, meski hanya untuk diri sendiri.

Sosok seorang ibu memiliki kualitas agung. Padanya melekat sifat kasih ilahi yang tak pernah padam. Bahkan sejak kita semua sebelum terlahir ke dunia ini, tinggal dalam garbang surgawi yang disebut alam rahim ibu, yang sesungguhnya kata “rahim” merupakan salah satu asma Allah. Ini secara jelas menunjukan keterkaitan kualitas yang amat dalam dan lembut sekali, bahwa sebagian kasih Allah itu terpancar ke dunia melalui sosok ibu sebagai transmiternya, yang dalam istilah tasawuf disebut “tajally ilahi”. Bahwa seorang ibu senantiasa memancarkan keindahan dan kasih ilahi, bagaikan surya menyinari dunia, yang selalu memberi, tak mengharapkan imbalan kembali.

by. ichad

 

Pos ini dipublikasikan di Tulisan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s