Perempuan Bisa Bertahan Tanpa Berhubungan Seks, Berapa Lama Ya?


unnamed

Ketika saya menulis “Hubungan Seks Di Luar Nikah. Bolehkah?” dan dishare ke medsos, seorang teman berjenis kelamin laki-laki memberikan komentar “Jawabannya dinilai dari segi mana bro….? pertanyaan ini sulit dijawab secara tegas bagi orang-orang yang jauh dari pasangan sahnya…….tapi secara agama ya ga boleh….”.

Komentar itu meluncur dari teman saya yang sudah hampir se tahun meninggalkan  istrinya merantau ke luar negeri untuk mencari nafkah, menjadi buruh migran di LA. Sebagi sesama laki-laki saya memahami betul apa yang ada dalam pikirannya. Tidak mudah memang, seorang yang pernah berhubngan seks kemudian karena berbagai hal, tidak melakukan hubungan seks lagi dalam waktu yang lama. Tidak heran kemudian muncul fenomena banyaknya laki-laki yang ditinggal istrinya menjadi buruh migran (TKW) menjalin hubungan dengan perempuan lain, baik dalam perselingkuhan maupun memilih menikah lagi (poligami).

Lalu bagaimana dengan perempuan? Apakah perempuan cukup kuat tidak berhubungan seks dalam waktu yang lama? Seberapa lama perempuan bertahan tidak berhubungan seks? Seperti kita tahu, biasanya, kontrak waktu bekerja di luar negeri selama dua tahun dan kemudian dapat diperpanjang lagi. Itu artinya, pasangan suami istri tidak melakukan hubungan seks selama dua tahun itu.

Menurut sejumlah literatur, perempuan bisa bertahan tidak berhubungan seks empat sampai enam bulan. Para ulama mazhab Ahmad bin Hambal mengatakan bahwa batas maksimal perempuan bertahan tidak berhubungan seks adalah empat bulan. Dengan demikian, jika tidak ada halangan serius, minimal setiap empat bulan sekali hubungan seks harus dilakukan.

Sementara menurut riwayat lain yaitu dari Umar bin Khaththab, batas maksimal perempuan bertahan tidak berhubungan seks adalah enam bulan. Ceritanya begini: suatu ketika terpikir oleh khalifah tentang nasib perempuan-perempuan yang ditinggal suaminya dinas ke luar kota sebagai tentara. Lalu khalifah melakukan jajak pendapat kepada mereka (para istri tentara) termasuk putrinya sendiri Siti Hafsah. Dari pengakuan mereka diketahui bahwa rata-rata daya tahan kaum istri berkisar empat sampai enam bulan. Berdasarkan itulah maka khalifah Umar menetapkan jangka waktu enam bulan sebagai batas maksimal masa tugas tentara yang memaksanya terpisah dari istrinya. (Islam & Hak-Hak Reproduksi Perempuan)

Dari penjelasan di atas telah jelas berapa lama perempuan bertahan tidak berhubungan seks ketika jauh dari pasangan. Lalu bagaimana perempuan-perempuan buruh migran itu memenuhi kebutuhan seksualitasnya?. Adakah solusi agamis yang bisa ditawarkan untuk membantu persoalan ini?.

Dalam Islam, solusi yang ditawarkan adalah peningkatan takwa dan menetralisir dorongan hawa nafsu seks dengan menjalankan puasa. Dengan puasa, nafsu ingin melakukan hubungan seks akan bisa ditekan.

Solusi yang lain adalah kawin kontrak. Meskipun kawin kontrak ini masih dalam perdebatan, persoalan kebutuhan seks perempuan dan laki-laki yang saling berjauhan ini harus segera mendapat jawaban. Jika ada solusi lain yang lebih bermoral, logis dan manusiawi akan sangat membatu pemecahan persoalan ini.

Sumber: dari berbagai sumber

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Tulisan. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s