Tren Gadgetista…


facebook

SAAT ini sudah menjadi pemandangan lumrah melihat fashionista berlomba-lomba “memamerkan” gadget mereka di muka publik. Berbagai gawai mutakhir dipamerkan di acara semacam pentas seni sekolah, arisan, reunian, atau sekedar mendokumentasikan santap malam di salah satu kafe.

Tidak ada yang salah meski terkesan norak dengan “kegenitan” yang ditampilkan kaum fashionista ini bagian hak asasi mereka dalam meng-ekspresikan diri. Uniknya, hal ini seakan telah menjadi fenomena keseharian di sekitar kita.
Masalahnya, apakah untuk sekedar memotret harus menggunakan tablet berukuran 10 inchi?. Padahal fungsi gadget mahal ini bukan semata foto, justru lebih ditekankan untuk beragam keperluan penelusuran informasi secara virtual melalui internet. Juga sebagai media baru menikmati pustaka elektronik (e-book) secara praktis.

Penulis sengaja menggunakan istilah fashionista di sini, mengingat mereka pengguna gadget bukanlah konsumen media yang sadar betul dengan fungsi dan manfaat gadget. Fashionista – istilah yang pertama kali dipopulerkan desainer kondang dunia, Oscar de la Renta, adalah istilah populer di kalangan dunia mode untuk mengidentifikasi mereka yang tidak mampu mengenali batasan-batasan umum dari style. Pendek kata, para fashionista di mata desainer kelahiran Dominika tersebut adalah korban fashion yang meminjam istilah remaja sekarang – kamseupay alias kampungan…

Bagaimana tidak, untuk mengabadikan acara arisan saja para fashionista baru merasa afdol bila memotret dengan tablet berukuran layar 10 inchi. Atau, menjinjing gadget paling canggih hanya untuk bermain Angry Bird. Atau, menggunakan gadget keluaran terbaru hanya untuk berjejaring sosial melalui Twitter. Tapi, lebih parah lagi ketika keberadaan gadget bermerk harga nyaris 7 digit sebatas menaikkan status sosial!.

Sekali lagi jika merujuk hak asasi, tidak ada yang salah dengan perilaku fashionista ini. Hanya saja yang menggangu, tentu cara memanfaatkan gadget-gadget super canggih sebatas tujuan pameran dan kurang optimal. Well, inilah fashionista yang dicirikan dengan dua hal: Faddishness dan Materialism.

Fad dan Konsumtifisme.

Faddishness atau fad adalah kecenderungan berperilaku aneh yang kerap dipertunjukan fashionista. Entahlah apa yang terpikir di benak mereka saat harus mempertontonkan gadget canggih yang kurang pas digunakan di muka publik. Barangkali di benak mereka tingkah laku aneh ini justru dinilai keren!. Yang jelas, gejala ini lebih dipicu kecenderungan mengutamakan aksi ketimbang substansi. Gadget bagi fashionista lebih dilihat sebagai aksesoris, bukan fungsinya sebagai produk teknologi informasi dan komunikasi. Yakni perangkat yang akan memudahkan penggunanya berkomunikasi dan melakukan penelusuran informasi secara cepat dan akurat.

Ciri kedua fashionista adalah kecenerungan materialism dan konsumtifisme dari pelakunya. Gadget semata-mata tidak dipandang secara substantif, melainkan dipandang sebagai alat menaikan status sosial. Tidak mengherankan bila kemudian para fashionista selalu berlomba-lomba menjadi early adopter produk gadget keluaran terbaru yang datang silih berganti dalam hitungan minggu. Ironisnya, kebanyakan gadget yang dibandrol dengan harga selangit itu selalu laris manis di pasaran.

Sudah jadi rahasia umum, gerai gadget di hampir setiap sudut kota di Indonesia selalu dipadati pengunjung. Sejumlah pusat bisnis gadget yang lama maupun yang baru tidak pernah sepi dari penggila gawai. Tak heran bila berbagai vendor gadget terkemuka menjadikan Indonesia sebagai pasar penting bagi mereka. Misalnya Vendor Blackberry, RIM, sekarang menjamur nya android dengan harga relatif terjangkau. Namun sekali lagi, tidak ada yang salah dengan seseorang memiliki dan menggunakan gadget. Yang masalah ketika kita kemudian dikendalikan olehnya, sehingga posisinya bukan lagi menjadi subjek melainkan objek (baca: budak) gadget.

Sejatinya, gadget sebagai hasil inovasi teknologi menjadi “hamba” bagi manusia yang menggunakannya, bukan sebaliknya. Jadi ini sebuah pilihan: Masihkah kita akan menjadi korban gadget alias Gadgetista/Gadget Fashionista ?
Atau, jangan-jangan gadgetista itu sengaja bertingkah aneh seperti menikmati stigma yang diberikan masyarakat, seraya berharap kita berseru dalam bahasa pergaulan mutakhir dengan mata terbelalak….

“Jadi, gue mesti bilang wow, gitu?!….

“Mereka bilang: Masbuloh….!!!”

Iklan
Pos ini dipublikasikan di life style. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s