Alangkah Sia-Sianya Amalan Facebook Kita…


Facebook oh Facebook

Siapa tak punya akun facebook. Ini sudah 2013, masa akun facebook saja tak punya.. Ada pula yang berujar, “Facebook, plus minus sih ya..”.

Ya, ya. Facebook adalah sebuah produk peradaban. Masalah ia mengandung nilai budaya tertentu, masing-masing akan berbeda paham.

facebookAda yang berkata, budaya yang dianut facebook itu budaya All Seing Eye, budayanya Dajjal si Mata Satu. Budaya pengintaian dan pengendalian massa oleh invisible hand, ada tangan di balik layar yang mengontrol dan menggiring penggunanya pada target tertentu. Dimana kita menyetorkan sederet data pribadi kita pada pihak yang tidak kita sadari yang sangat mungkin memiliki kepentingan dibaliknya. Apapun kepentingannya, ekonomi, pengendalian informasi dan opini, transfer budaya, sampai agenda politik praktis.

Ada pula yang menganggap analisa di atas berlebihan. Facebook toh hanya produk teknologi yang bebas nilai. Hanya madaniyyah (benda) saja, bukan hadhoroh (mengandung nilai dan pemikiran tertentu), kata sebagian kawan-kawan. Seperti pisau. Tergantung pemakainya. Mau dipakai mengiris bawang bisa, mau dipakai untuk tindak kriminal pun bisa. Jadi dikembalikan pada niat dan awareness (kemawasan) pengguna facebook itu sendiri.

Terlepas dari itu semua, memang ada poin-poin yang agaknya banyak dirasakan oleh para facebookers sendiri dan itu sangat merugikan. Ulasan berikut mungkin dapat memberikan sedikit gambaran.

Ujian itu Bernama Informasi

Pertama, derasnya informasi yang ditampilkan oleh sistem jejaring sosial tersebut ketika kita baru saja membuka akun kerap membuat kita tak kuasa mengelolanya. Kita terdisorientasi dan limbung. Kita terbawa pada rasa penasaran yang sering kali mencelakakan. Tadinya hanya mau mengunjungi kawan yang sudah lama tidak kontak yang ada menjelajah kesana kemari tak tentu arah. Selanjutnya hanya tinggal penyesalan, itu pun jika kita mengevaluasi diri. Bukan tidak mungkin kita malah terlalaikan oleh banjir informasi tersebut lantas kecanduan. Naudzubillahi min dzalik.

Informasi memang demikian, jika sudah datang maka tak dapat kita cegah dan jika sudah kita sosialisasikan tak dapat diperbaharui. Ia bersifat irreversible, tidak bisa ditarik kembali. Kita mungkin dapat meralat tapi informasi yang sudah kita lepaskan kemarin tetap ada, tetap tercatat. Maka, di sini pentingnya pengelolaan atas informasi tersebut.

Kita harus benar-benar mawas terhadap informasi ini, karena setiap informasi yang datang biasanya akan mempengaruhi diri kita. Bisa berpengaruh buruk ataupun berpengaruh baik. Besarnya pengaruh itu sangat tergantung pada integritas dan kualitas jiwa kita.

Hanya mereka dengan orientasi hidup yang shahih dan berakar sehat yang mampu mengelola informasi yang datang menjadi charger positif pada dirinya. Karena biasanya mereka memiliki agenda harian yang jelas dan berkualitas. Karena karakter fikrah yang shahih selalu membawa pengembannya pada amalan-amalan nyata yang bermanfaat dunia akhirat. Dan agenda harian adalah eksekusi logis setelah seseorang membuat rancangan hidup yang visioner.

Maka, agenda harian ini membuat rangkaian waktu mereka -yang visioner itu- sarat dengan prioritas amal dan terarah. Langkah-langkah hariannya tidak gampang menyerong tersedot informasi-infomasi tak berguna. Ia khusu pada perbaikan kualitas amalnya, baik amalan muamalah maupun amalan fardhiyyah. Agenda harian membantunya tak mudah mencampuri urusan yang bukan urusannya atau amal-amal buruk yang hanya memasung tujuan dan nilai-nilai yang hendak ia wujudkan. Ia dengan mudahnya meng-cut aktivitas facebooknya jika dirasa itu sudah merusak agendanya. Maka, ia tinggalkan mereka yang memakan bangkai di facebook , ia tinggalkan riya, namimah, perkataan dusta dan sia-sia.

Maka, mari kita belajar beragenda! Namun, yang mesti diingat bahwa agenda hanya tinggallah agenda tanpa keyakinan yang terus disegarkan dan langkah yang terus dihentakkan. Disini perlunya kita terus menimba ilmu dan bergabung dengan orang-orang yang shalih dan wara’ (mawas).

Mari kita renungi sekali lagi kalamullah yang sering dilantunkan anak-anak kita dalam rangkaian hafalannya:

“Demi Masa! Sesungguhnya manusia itu di dalam kerugian. Kecuali mereka yang beriman, beramal soleh dan berpesan-pesan dengan kebenaran serta berpesan-pesan dengan kesabaran.” (Al ‘Asr 103: 1-3)

Hal diatas adalah langkah agar banjir informasi tersebut tidak menenggelamkan kita, lantas bagaimana jika kitalah yang hendak menjadi sumber informasi. Jauh-jauh hari Rasulullah Muhammad Salallahu’alaihi wasalam sudah mengajarkan kita bagaimana pengelolaan informasi terbaik.

”Cukuplah seseorang dikatakan berdusta, jika ia menceritakan setiap yang dia dengar.”(HR. Muslim).

Imam Malik –semoga Allah merahmati beliau- mengatakan,

”Ketahuilah, sesungguhnya seseorang tidak akan selamat jika dia menceritakan setiap yang didengarnya, dan dia tidak layak menjadi seorang imam (yang menjadi panutan, pen), sedangkan dia selalu menceritakan setiap yang didengarnya.

(Dinukil dari Muntahal Amani bi Fawa’id Mushtholahil Hadits lil Muhaddits Al Albani).1

Allah berfirman dalam Al Quran:

“Dan apabila datang kepada mereka suatu berita tentang keamanan ataupun ketakutan, mereka lalu menyiarkannya.”(QS. an-Nisa’: 83)

Ibnu Katsir menafsirkan:

“(ayat tersebut) Adalah pengingkaran terhadap orang yang bersegera dalam berbagai urusan sebelum memastikan kebenarannya, lalu ia mengabarkannya, menyiarkannya, dan menyebarluaskannya, padahal terkadang perkara itu tidak benar.”

Bersambung insya Allah

(esqiel/muslimahzone.com)

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Seputar Jejaring Sosial. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s