Kereta Api Parahyangan Tinggal Kenangan


Oleh SUWARDJOKO P. WARPANI

Bukan April Mop karena sudah memasuki akhir April. Ya, 27 April 2010 adalah hari perjalanan terakhir KA Parahyangan. Selama 39 tahun KA Parahyangan ulang-alik Bandung-Jakarta tiada henti tujuh hari/minggu. Kini, namamu tinggal kenangan . Memang, nama Parahyangan banyak penggunanya, tetapi KA Parahyangan hanya milik KA Parahyangan. Betul nama itu indah dibaca, syahdu didengar, anggun digunakan, juga mengandung nuansa sakral apalagi bagi penduduk atau insan yang berasal/berdarah Tatar Prahyangan.

Terima Kasih KA Parahyangan atas ketekunanmu selama 39 tahun, yang diwarnai suka maupun duka. Suka karena engkau memang melayani kebutuhan masyarakat dan engkau datang tepat waktu, karena engkau telah membuka peluang kerja tak terbilang, dan engkau telah menorehkan jasa angkutan Bandung-Jakarta. Di sisi lain, banyak pula duka kau derita. Tubuhmu tak jarang menjadi sasaran tangan usil tak bertanggung jawab, wajahmu acap kali dilumuri cat tak dikehendaki, kacamu amat sering retak-retak kena lemparan batu orang-orang yang berjiwa kanak-kanak, benda tajam pun menyayat tempat duduk yang kau perindah demi kenyamanan penumpang, lebih parah lagi masinis yang mengendalikanmu terpaksa kehilangan mata kena lemparan batu.

Meskipun telah berguna (aku enggan menyebutmu “berjasa”), amat banyak hujatan kau terima. Para insan yang terlibat langsung pada perkeretaapian, sudah habis akal bagaimana menjelaskan duduk perkaranya bila terjadi petaka. Apabila ada “perkara” dengan kereta api, maka kesalahan hampir selalu dialamatkan pada kereta api, kurang inilah, kurang itulah, salah urus itulah, semua ke alamat kereta api. Bus “menghajar” kereta api pun yang disalahkan sang kereta api, bukan sopir bus yang sembrono dan ugal-ugalan. Sasaran umpatan kepada alamat kereta api: mengapa perlintasan tidak dijaga, mengapa tidak ada pintu lintasan, mengapa kereta api tidak direm, mengapa begitu, mengapa begini, dan sebagainya, dan sebagainya.

Insan perkeretaapian rasanya sudah geram berat, dengan segala lemparan kesalahan yang menimpa perkeretaapian kita, sementara derita yang dialami kereta api beserta insan perkeretaapian kiat rupanya tak begitu digubris oleh masyarakat. Pengguna jasa menuntut kereta api harus bersih, tempat duduk harus nyaman, peturasan harus terawat, pintu harus bisa di buka tutup lancar, penumpang harus tidak berdesak-desak seperti pindang, manajemen harus dibenahi, dan masih sederet tuntutan yang semuanya tidak salah.

Pertanyaannya, benarkah begitu? Tidak salah, tetapi bisa tidak benar. Cobalah ditelusuri, siapa yang mengganjal pintu otomatis, siapa yang membawa pulang kran peturasan, bonek itu siapa?, siapa yang—–macam-macam lagi. Upayamu bersaing dengan Cipularang, terhalang oleh jalan rel yang memang kurang. Tak mungkin engkau memacu diri pada rel yang berliku-liku di dataran tinggi. Upaya membangun rel ganda ternyata ketinggalan oleh pembangunan jalan raya. Kebijakan pembangunan sistem perangkutan belum berpihak kepadamu. Gagasan, analisis, dan rencana cukup banyak di halaman kertas dan lama di dalam lemari, sampai kini belum membumi.

Rel tempatmu melaju sudah uzur, rodamu yang membawamu lari sudah aus, engkau selalu dipacu tetapi kurang jamu (baca: perawatan), pemilikmu (baca: rakyat) hanya pandai menuntut hak kurang paham kewajiban, stasiun tempatmu mengaso sambil menaikturunkan penumpang tentu tak nyaman bagimu, karena siapa pun bisa menginjak pintumu dan masuk ke perutmu. Kini, engkau telah lelah meskipun usiamu baru 39 tahun belum tua dibandingkan dengan rekanmu di negara lain. Terima Kasih KA PARAHYANGAN.

Kututup terima kasihku padamu untuk mengenangmu KA Parahyangan, dengan bersenandung bait kedua lagu Kereta Api (kebetulan masih ku ingat):

Cepat keretaku jalan, tut, tut, tuuuuut; baaaaaanyak penumpang turut.

Keretakuuuu sudah penat; jalan pun sudah mulai payaaaah.

Di sini ia ‘kan berhentiiii, akan melepaskan lelaaaah.

Selamat tidur KA Parahyangan, sayangku, suatu saat bangunlah, semoga adikmu KA Argo Gede masih mampu ulang-alik Bandung-Jakarta, minim derita sembari menunggu rel ganda menjadi nyata.***

Penulis, pemerhati angkutan dan lalu lintas.

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Yang Hangat. Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s